www.wartafakta.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada pekan lalu, tepatnya antara 16 hingga 20 Juni 2025. Penurunan ini mencapai 3,61%, membuat IHSG berada di level 6.907,13, sebuah kondisi yang berlawanan dengan tren positif di pekan sebelumnya.
Data yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa IHSG pada pekan sebelumnya berhasil meningkat sebesar 0,74%, mencapai 7.166,06. Penurunan ini menunjukkan dampak signifikan dari kondisi makroekonomi dan geopolitik yang mempengaruhi pasar modal secara langsung.
Penyebab penurunan IHSG tidak terlepas dari beberapa faktor eksternal yang berkontribusi terhadap ketidakpastian pasar. Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang memicu jatuhnya IHSG, di antaranya adalah konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak.
Selanjutnya, keputusan bank sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia dan AS, untuk menahan suku bunga acuan turut memengaruhi laju pasar. Menurut Herditya, keputusan tersebut bisa menambah tekanan bagi investor yang mencari peluang di tengah ketidakpastian ini.
Faktor Geopolitik yang Mempengaruhi IHSG secara Signifikan
Konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama yang memengaruhi sentimen pasar. Ketika ketegangan meningkat, investor cenderung lebih hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Hal ini terlihat dari peningkatan tekanan jual di pasar saham.
Lanjutan ketegangan di kawasan tersebut berpotensi memicu ketidakstabilan yang lebih besar, yang dapat menimbulkan efek domino di pasar keuangan global. Ketidakpastian semacam ini biasanya membuat investor menjauhi risiko, dan beralih ke aset yang lebih aman.
Semua faktor ini berkontribusi pada peningkatan volatilitas pasar. Investor lokal juga merasakan dampak dari berita negatif yang bersifat global, dan sering kali cenderung mengikuti langkah investor asing dalam mereaksi kondisi pasar.
Pergerakan Investor Asing di Pasar Saham Indonesia
Di samping faktor eksternal, perilaku investor asing juga mempengaruhi IHSG. Pada pekan ini, investor asing melakukan penjualan saham yang cukup besar dengan total mencapai Rp 4,5 triliun. Ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya khi mereka masih mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 1,30 triliun.
Aksi jual ini menunjukkan bahwa investor asing mengalami kecemasan yang sama terkait dengan kondisi makroekonomi yang ada. Penjualan yang cepat cenderung memicu aksi jual lebih lanjut oleh investor lokal yang membuat tekanan pada IHSG semakin dalam.
Kondisi ini menciptakan suasana pasar yang sulit dan berisiko tinggi. Investor yang memiliki saham pun harus siap untuk menghadapi fluktuasi harga yang tajam, sehingga strategi investasi yang hati-hati menjadi lebih penting di tengah situasi saat ini.
Perkembangan Kinerja Transaksi Harian di Bursa
Selama pekan yang penuh tantangan ini, rata-rata nilai transaksi harian bursa juga menunjukkan penurunan yang signifikan. Nilai transaksi harian mengalami penurunan sekitar 7,63% menjadi Rp 15,01 triliun, padahal sebelumnya berada di level Rp 16,24 triliun.
Penurunan nilai transaksi menunjukkan bahwa minat investor terhadap pasar saham menurun, mencerminkan sikap hati-hati yang diambil oleh sebagian besar pelaku pasar. Rata-rata frekuensi transaksi harian juga menurun hingga 8,15% menjadi 1,31 juta kali transaksi dari sebelumnya.
Pada saat yang sama, rata-rata volume saham yang diperdagangkan juga mengalami penurunan sebesar 13%, dengan total 24,41 miliar saham. Penurunan ini menandakan bahwa aktivitas pasar sedang lesu dan banyak investor yang memilih untuk tidak bertransaksi dalam situasi yang tidak menentu ini.