www.wartafakta.id – Dalam laporan terbaru, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) memaparkan hasil kinerja keuangan untuk kuartal pertama 2025 dengan perhatian besar pada sektor properti dan konstruksi. Meskipun terdapat penurunan tipis dalam pendapatan konsolidasian, perusahaan menunjukkan kemajuan yang signifikan pada dua lini bisnis utamanya.
Pendapatan konsolidasi mengalami penurunan sebesar 2,1%, menjadi Rp1,07 triliun jika dibandingkan dengan Rp1,09 triliun di periode yang sama tahun lalu. Namun, faktor pendorong pertumbuhan justru datang dari segmen konstruksi yang naik tajam.
Pendapatan dari segmen konstruksi meningkat sebesar 24,5%, mencapai Rp887,6 miliar. Di sisi lain, segmen properti juga mencatat pertumbuhan sebesar 2,6% dengan total pendapatan mencapai Rp163,8 miliar, meskipun di sini ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.
Analisis Kinerja Segmen Konstruksi yang Mendorong Pertumbuhan Perusahaan
Segmen konstruksi menjadi tulang punggung pertumbuhan SSIA dalam kuartal ini. Lonjakan 24,5% dalam pendapatan menunjukkan permintaan yang kuat untuk layanan dan produk konstruksi perusahaan.
Perusahaan berhasil menarik sejumlah proyek baru yang berkontribusi pada angka penjualan yang impresif. Dengan semakin tingginya investasi di infrastruktur, SSIA jelas berada pada posisi yang menguntungkan untuk terus berkembang.
Meskipun tantangan dalam biaya material dan tenaga kerja tetap ada, SSIA menunjukkan kemampuan untuk mengelola hal tersebut dengan baik. Manajemen menyampaikan keyakinan bahwa pasar konstruksi akan tetap kuat dalam beberapa tahun mendatang.
Segmen Properti yang Stabil di Tengah Penurunan Lainnya
Segmen properti masih menunjukkan ketahanan meskipun dalam kondisi pasar yang menantang. Dengan pencapaian pendapatan sebesar Rp163,8 miliar, kenaikan 2,6% menandakan adanya permintaan di sektor ini.
Dengan peluncuran proyek baru dan peningkatan kualitas layanan, SSIA terus berusaha untuk menarik lebih banyak pembeli. Perusahaan juga fokus pada pengembangan kawasan yang berada dalam lokasi strategis untuk meningkatkan daya tarik investasi.
Walaupun ada tantangan yang dihadapi, seperti persaingan yang ketat, SSIA tetap optimis tentang prospek ke depan. Potensi penjualan yang solid di sektor properti diharapkan tetap berlanjut seiring recoverynya ekonomi.
Dampak Penutupan Sementara pada Segmen Perhotelan
Sementara itu, segmen perhotelan mengalami penurunan yang cukup drastis sebesar 57,3%, dengan pendapatan sebesar Rp99,6 miliar. Hal ini disebabkan oleh penutupan sementara Hotel Melia Bali untuk renovasi yang dimulai sejak Oktober 2024.
Renovasi hotel menjadi prioritas untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman tamu di masa depan. Manajemen percaya bahwa investasi ini akan memberikan hasil yang positif dan membawa kembali pelanggan setelah renovasi selesai.
Meskipun dalam jangka pendek segmen ini mengalami kerugian, manajemen tetap optimis akan potensi pertumbuhannya pasca-renovasi. Memperbaiki fasilitas dan layanan di hope untuk menarik lebih banyak wisatawan ke Bali.
Penutupan Laporan Keuangan dan Strategi Jangka Panjang
Laba kotor SSIA tercatat sebesar Rp199,5 miliar, mengalami penurunan sebesar 35% dibandingkan tahun lalu. Penurunan ini, ditambah dengan EBITDA yang anjlok sebesar 75,3% ke Rp36,3 miliar, menunjukkan adanya tantangan yang signifikan.
Kerugian bersih konsolidasi sebesar Rp21,7 miliar merupakan peningkatan dari kerugian Rp14,9 miliar di tahun lalu. Hal ini menandakan kebutuhan untuk evaluasi strategi dan pemantauan yang lebih baik untuk meningkatkan kinerja selanjutnya.
Meski demikian, manajemen menyatakan bahwa langkah-langkah yang diambil sekarang adalah bagian dari strategi jangka menengah yang lebih besar. Fokus pada renovasi dan penguatan portofolio akan diprioritaskan untuk meningkatkan nilai perusahaan di masa depan.