www.wartafakta.id – Selama libur Lebaran tahun 2025, jumlah penumpang yang menggunakan jasa bandara di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Data menunjukkan bahwa sebanyak 9,16 juta penumpang tercatat telah melakukan perjalanan selama masa angkutan ini, mencerminkan kebangkitan kembali aktifitas perjalanan pasca-pandemi.
Pada periode yang berlangsung dari 21 Maret hingga 11 April 2025, peningkatan jumlah penumpang ini mencerminkan tren positif, di mana terjadi kenaikan sebesar 2,4 persen dibandingkan tahun lalu. Hal ini menjadi bukti daya tarik liburan Lebaran yang selalu memuncak di Indonesia, di mana masyarakat memanfaatkan momen ini untuk berkumpul dengan keluarga.
Meningkatnya Mobilitas Penumpang di Bandara
Dari total 9,16 juta penumpang yang berangkat, ada lima bandara yang tercatat sebagai yang tersibuk. Bandara Soekarno-Hatta (CGK) memimpin daftar dengan 3,05 juta penumpang, diikuti oleh Bandara I Gusti Ngurah Rai (DPS) dengan 1,18 juta penumpang. Data ini menggambarkan betapa pentingnya peran bandara-bandara utama dalam mendukung mobilitas masyarakat di saat-saat penting seperti Lebaran.
Jumlah penerbangan pun meningkat drastis, dengan total 64.732 pergerakan pesawat selama periode ini. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya perusahaan penerbangan dalam melayani kebutuhan perjalanan, bahkan menghadirkan lebih dari 2.900 ekstra penerbangan untuk mengakomodasi lonjakan permintaan, baik domestik maupun internasional. Fenomena ini telah menjadi perhatian penting di kalangan industri penerbangan, yang terus beradaptasi dengan permintaan pasar yang dinamis.
Strategi dan Dampak pada Industri Penerbangan
Dalam menghadapi lonjakan penumpang ini, perusahaan penerbangan dan pengelola bandara harus menerapkan strategi yang efektif. Pengelolaan alur kedatangan dan keberangkatan penumpang, presisi operasi penerbangan, dan penyediaan layanan yang baik menjadi kunci utama. Untuk itu, penambahan penerbangan ekstra merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi, memberikan kemudahan bagi para penumpang yang ingin mudik atau berlibur.
Dengan adanya data dan analisis ini, tampak jelas bahwa pertumbuhan jumlah penumpang selama masa angkutan Lebaran bukan hanya menggambarkan tradisi yang kuat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Dengan meningkatnya mobilitas, banyak sektor, seperti transportasi, perhotelan, dan pariwisata, juga merasakan keuntungan dari lonjakan ini. Oleh karena itu, penting bagi para pemangku kepentingan untuk terus memantau dan meningkatkan layanan mereka untuk memenuhi harapan masyarakat.